1. Nama : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
Tempat/tanggal lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889
Meninggal : Di Yogyakarta, 26 April 1959 (69 tahun)
Riwayat hidup : Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).
2. Nama : Abdoel Moeis
Tempat/tanggal lahir :Sungai Puar, agam Sumatra Barat 3 Juli 1883
Meninggal : Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 (75 Tahun)
Riwayat hidup : pernah bekerja sebagai
klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada
surat kabar Belanda, Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.
Dia sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kaoem Moeda sebelum mendirikan surat kabar
Kaoem Kita pada 1924. Selain itu ia juga pernah aktif dalam Sarekat Islam dan
pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah
kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.
3. Nama : Mohammad Husni Thamrin
Tempat/tanggal lahir : Weltevreden, Batavia, 16 Februari 1894
Meniggal : Senen, Batavia, 11 Januari 1941
Riwayat hidup : Dia dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari
organisasi Kaoem Betawi) yang pertama
kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda,
mewakili kelompok Inlanders("pribumi"). Sejak 1935 ia menjadi
anggota Volksraad melalui Parindra.
Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepakbola Hindia
Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000
Gulden pada tahun 1932 untuk
mendirikan lapangan sepakbola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang
pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang
Jakarta).
4. Nama :Haji Agus Salim (Mashudul Haq)
Tempat/tanggal lahir : Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8
Oktober 1884
Tempat/tanggal lahir : Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8
Oktober 1884
Meniggal : Jakarta, Indonesia, 4 November 1954
Riwayat hidup : Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik. Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.
5. Nama : Raden Mas Soerjopranoto
Tempat/tanggal lahir: Yogyakarta, 11 January 1871
Meniggal : Cimahi, 15 Oktober 1959
Riwayat hidup : Pada tahun 1900, Suryopranoto mendirikan sebuah organisasi bernama Mardi Kaskaya. Sebagian besar pengurus organisasi ini adalah kerabat Pakualaman. Mardi Kaskaya kurang lebih mirip sebuah koperasi simpan-pinjam. Pada akhir tahun 1901, Suryopranoto mendirikan sebuah klub pertemuan dengan nama Societeit Sutrohardjo. Klub ini kurang lebih merupakan sebuah perpustakaan yang sangat sederhana. Dalam klub ini, orang bisa membaca berbagai bacaan, seperti surat kabar dan majalah. Sehubungan dengan keberadaan Mardi Kaskaya, ruang gerak rentenir semakin berkurang. Mereka sering menemui umpatan dan cacian ketika keluar masuk kampung-kampung. Akibatnya, konflik terbuka sering terjadi. Insiden-insiden tersebut dianggap oleh pejabat kolonial sebagai gangguan ketentraman umum karena keberadaan Mardi Kaskaya dengan Suryopranoto sebagai pendirinya. Oleh karena itulah pejabat kolonial "menyekolahkan" Suryopranoto ke MLS (Middelbare Landbouw School = Sekolah Menengah Pertanian) di Bogor.
7. Nama : Ir. Soekarno
8. Nama : Drs. H. Mohammad Hatta
9. Nama : Pangeran Diponogoro
10. Nama : Sultan Hasanuddin
6. Nama
:Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman
Tempat/tanggal lahir :Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah,
24 Januari 1916
Riwayat Hidup :
Soedirman
dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada
prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat
banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri.
Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal
pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen
dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
7. Nama : Ir. Soekarno
Tempat, tanggal lahir : Blitar,
Jawa Timur, 6 Juni 1901
Riwayat Hidup
:
Ir. Soekarno
adalah pahlawan kemerdekaan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara.
ia melawati berbagai rintangan untuk memerdekakan bangsa indonesia. Ia berperan
sangat penting dalam masa jabatannya, yang waktu itu setelah bangsa indonesia
merdeka ia langsung diangkat menjadi presiden Repubil Indonesia.
8. Nama : Drs. H. Mohammad Hatta
Tempat, tanggal lahir : Bukittinggi, Sumatera
Barat, 12 Agustus 1902
Riwayat hidup
:
Hatta
mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi,
sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika
terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo
diganti oleh Hermen Kartawisastra. Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi
diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi
presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator
Indonesia.
9. Nama : Pangeran Diponogoro
Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 11 November 1785
Riwayat Hidup :
Perang
Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik
Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan
kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat
mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. . Saat itu, Diponegoro
menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum
kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa
pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di
Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa
Selarong. Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari
15.000 tentara dan 20 juta gulden.
10. Nama : Sultan Hasanuddin
Tempat, tanggal lahir : Makassar, Sulawesi Selatan,
12 Januari 1631
Riwayat Hidup :
Pertempuran
terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya
Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia
mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu
Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta
bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat.
Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah
kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng
terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan
Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada
tanggal 12 Juni 1670.



